Penggunaan Kata “Was” dan “Were” Sebagai To Be Bentuk Lampau

Posted on
Advertisements

 

Penggunaan Kata Was dan “Were” Sebagai To Be Bentuk Lampau
Penggunaan Kata Was dan “Were” Sebagai To Be Bentuk Lampau

Penggunaan Kata “Was” dan “Were” Sebagai To Be Bentuk Lampau – Penggunaan “was” dan “were” terkesan mudah. Tetapi, ada beberapa ungkapan yang cukup membingungkan dalam penggunaan kedua frase ini. Keduanya memang merupakan ‘to be’ yang dipergunakan untuk bentuk lampau yaitu past continuous tense, tetapi dapat juga menunjukkan kalimat pasif dan juga pengandaian. Berikut adalah gambaran jelas tentang penggunaan “was” dan “were” yang tepat untuk dipergunakan dalam berbagai kalimat.

1. Kenali Penggunaan “Was” dan “Were”

Menurut thesaurus.com the difference between Was vs Were depends on two factors: 1) is your verb using first, second, or third person? And, 2) is your verb in past indicative or past subjunctive tense? Past indicative is used for ordinary objective statements or questions, and past subjunctive is used for imaginary or hypothetical statements or questions. Jadi penggunaan was or were tergantung pada 2 faktor: (1) apakah kata kerja Anda menggunakan orang pertama, kedua, atau ketiga? Dan, 2) apakah kata kerja Anda dalam bentuk past indicative atau past subjunctive tense? Past indicative digunakan untuk pernyataan atau pertanyaan objektif biasa, dan past subjunctive digunakan untuk pernyataan atau pertanyaan imajiner atau hipotetis.)

Penggunaan “was” dan “were” adalah bentuk lampau dari kata kerja ‘to be.’Was‘ digunakan untuk singular tenses orang pertama dan ketiga (I, he, she, atau it). ‘Were‘ digunakan untuk kata ganti orang kedua tunggal atau jamak (you, your, yours, we, they). Kata “was” dan “were” adalah bentuk lampau dari “to be”.

2. Arti ‘to be’

‘to be’ dipergunakan untuk mendeskripsikan bermacam-macam tindakan, tetapi arti keseluruhan adalah ‘ada’ atau ‘terjadi’ pada suatu waktu dan tempat. Berikut contoh untuk menjelaskan dan menggunakan ‘to be’ dalam kalimat:

  • Untuk menyatakan sesuatu atau untuk melambangkan sesuatu. Contohnya,
    “Love is beautiful.”
    “The world is round”
  • Menggolongkan sesuatu
    “This building is a church.”
    “Working is your obligation.”
    “You are a teacher.”
  • Keberadaan di dunia nyata, menyatakan fakta yang ada, atau menyatakan sesuatu yang mutlak.
    “He was born.”
    “ She is alive.”
    “Let me be the one who tells you.”
  • Untuk menunjukkan keberadaan seseorang atau benda
    “The tea is on the table.”
    “She is at the swimming pool.”
    “They were in the house.”
    “The party was on Sunday.”

3. Penggunaan “was” dan “were” dalam sebuah kalimat

Penggunaan “was” dan “were” yang benar dalam sebuah kalimat adalah pada penggunaan simple past tense serta memperhatikan naratif, perspektif, dan jumlah kata benda.

Simple past tense adalah satu-satunya bentuk past tense yang menggunakan “were” dan “was” karena keduanya adalah bentuk lampau dari ‘to be.’ Sedangkan untuk present perfect dan past perfect tense, akan menggunakan “has been” atau “have been”
Present perfect tense: Menggunakan have been (I, They, We, You), has been (He, She, It).

Past perfect: Menggunakan had been untuk semua subjek
Simple past tense digunakan untuk menceritakan peristiwa masa lalu. Kalimat-kalimat yang menggunakan simple past tense mengandung adverb yang berkaitan dengan waktu (misalnya yesterday, Sunday, last month. Penggunaan “was” dan “were” setelah subjek adalah:

I was …
You were …
She/he/it was …
We were …
They were …

Simple past tense juga mengandung dua bentuk: Simple Progressive Tense dan Simple Continuous Tense. Simple Progressive Tense menggambarkan tindakan yang lebih lama dan berkelanjutan yang berlangsung sebelum terjadi sesuatu yang menghentikannya. Simple Continuous Tense menunjukkan bagaimana tindakan berlangsung tanpa interupsi atau sedang berlangsung.

Semua progressive tenses menggunakan “-ing” sebagai tambahan dari kata kerjanya. Kata kerja tersebut harus disertai ‘to be’ terlebih dahulu, sesuai dengan waktunya. Contoh,

“They were eating.”
“She was walking.”

4. Naratif: “Was” vs “Were”

Kata kerja “was” vs “were” juga dipengaruhi oleh narasi yaitu indikatif vs subjunctive. Indikatif menyampaikan reality, tetapi subjunctive mengungkapkan situasi ‘pengandaian’.

Benar: “If I were a wealthy woman, I would travel the world”
Salah: “If I was a wealthy woman, I would travel the world””

Benar: “I wish I were bigger to wear the charming gown.”
Salah: “I wish I was bigger to wear the charming gown.”

5. Bentuk indikatif “was” vs “were”

Benar: “She was at the post office.”
Salah: “She were at the post office.”

Benar: “They were perfect yesterday.”
Salah: “They was perfect yesterday.”

Benar: If my opinion was wrong, kindly let me know.
Salah: If my opinion were wrong, kindly let me know.

6. “If I Was” atau “If I Were”?

“If I Were” digunakan dengan kalimat yang menunjukkan pengandaian atau sesuatu yang tidak mungkin terjadi. “If I Was” digunakan untuk mendeskripsikan acara yang terjadi secara riil. Perlu diingat bahwa kalimat yang dimulai dengan “I wish” pasti menggunakan “were” dibandingkan “was”, karena sesuatu yang diharapkan bukanlah sesuatu yang sudah terjadi.
Cara Termudah

7. Cara yang mudah supaya Anda menguasai penggunaan “was” vs “were” adalah sebagai berikut

Gunakan “was” untuk penggunaan indikatif:
Orang pertama dalam singular past tense (I was).
Orang ketiga dalam singular past tense (he was, she was, it was).

Gunakan “were” untuk penggunaan indikatif:
Orang kedua dalam singular past tense (you were).
Orang pertama jamak dalam past tense (I were, we were).
Orang ketiga dalam past tense (they were).

8. Penggunaan Kalimat Pasif

Penggunaan ‘was’ or ‘were’ tidak secara langsung mengindikasikan kalimat pasif. Tetapi, kalimat pasif dapat dilakukan dengan penggabungan ‘to be’ dan past participle menggunakan V + 3
“She was found.”
“The little girl is being found.”

  • ‘To be’ + present participle dalam progressive tenses:
    “He is sleeping.”
    “He has been sleeping.”
  • ‘To be’ + past participle dari kata kerja intransitif tertentu(untuk kejadian historis yang menggunakan perfect tenses):
    “He is risen.”
  • ‘To be’ + infinitive dan ‘to’ untuk menyampaikan hal di masa depan dan kewajiban:
    “He is to become a great pilot.”

Perlu ditekankan di sini bahwa terkadang penggunaan “was” dan “were” dalam kalimat pasif dianggap sebagai tata bahasa yang dianggap melanggar struktur. Padahal, tidak ada yang salah dengan kalimat pasif secara teknis. Mayoritas ahli tata bahasa lebih menyukai kalimat aktif, karena menekankan subjek kalimat daripada objek sebagai penerima kata kerja.

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *